Lhokseumawe – Aceh Utara dan Lhokseumawe Banjir kembali melanda wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe pada akhir pekan lalu (14-15 November 2025), setelah hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama lebih dari 24 jam. Banjir ini menyebabkan ratusan rumah warga terendam,
jalan-jalan utama tergenang, dan aktivitas masyarakat terhenti. Selain itu, salah satu keluhan utama warga adalah kondisi parit yang tersumbat, yang diduga menjadi penyebab utama terjadinya genangan air yang meluas di dua kota tersebut.
Banjir kali ini mengingatkan masyarakat akan bencana serupa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi drainase yang buruk, terutama parit-parit yang tidak terurus, menjadi faktor yang memperburuk genangan air, menyebabkan banyak kawasan rendah yang tak mampu menampung air hujan, akhirnya terendam.
Warga pun mengeluhkan kurangnya perhatian terhadap perawatan infrastruktur pengairan yang dinilai sudah tidak berfungsi optimal.
Kronologi Banjir: Hujan Deras Menyebabkan Genangan Luas
Banjir yang melanda Aceh Utara dan Lhokseumawe dimulai pada Sabtu malam (14 November 2025), ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak sore hari. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan lebat disertai angin kencang terjadi akibat pertemuan dua massa udara yang membawa curah hujan tinggi. Akibatnya, sungai-sungai kecil dan parit-parit yang ada di kawasan ini tidak mampu menampung debit air yang datang begitu cepat.
Di Lhokseumawe, terutama di wilayah Blang Mangat, Simpang Tiga, dan Kota Lhokseumawe, air mulai meluap pada malam hari, merendam pemukiman warga, jalan-jalan utama, dan beberapa instansi pemerintah.

Baca Juga : Madura United Punya Pelatih Baru, Borneo FC Menerka-nerka Strateginya
Tak jauh dari Lhokseumawe, di Aceh Utara, daerah seperti Langkahan, Nisam Antara, dan Muara Satu juga mengalami hal serupa, di mana puluhan rumah warga terendam hingga kedalaman mencapai 60 cm hingga 1 meter.
Novianti, 38 tahun, warga Lhokseumawe, menceritakan bahwa air mulai memasuki rumahnya sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. “Tadi malam hujan sangat deras, dan tiba-tiba air masuk ke rumah.
Kami sempat terkejut karena sebelumnya tidak ada peringatan. Beberapa barang rumah tangga kami terendam, dan kami harus segera mengungsikan anak-anak,” kata Novianti dengan nada cemas.
Selain itu, genangan air juga menyebabkan terhambatnya arus lalu lintas di beberapa ruas jalan utama yang menghubungkan Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Beberapa kendaraan yang melintas terpaksa berhenti karena tidak bisa melewati jalan yang dipenuhi air setinggi lebih dari 30 cm.
Parit Tersumbat Jadi Penyebab Utama Banjir
Salah satu keluhan utama yang muncul dari warga adalah parit-parit yang tersumbat oleh sampah dan lumpur, yang menyebabkan aliran air tidak lancar. Parit yang tidak terurus dan penuh dengan sampah organik dan anorganik menjadi penyebab utama genangan air yang meluas. Bahkan di beberapa titik, warga mengaku tidak pernah melihat petugas melakukan pembersihan rutin terhadap saluran drainase yang ada.
Arif, 42 tahun, warga Langkahan yang rumahnya juga terendam banjir, mengatakan, “Parit di sekitar rumah saya sudah lama tidak dibersihkan. Air hujan turun dengan cepat, tapi tidak ada tempat untuk mengalir karena parit sudah penuh dengan sampah dan lumpur. Akibatnya, air meluap ke jalan dan masuk ke rumah kami.”
Muhammad Fadil, warga Simpang Tiga di Lhokseumawe, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, banjir yang terjadi kali ini lebih parah karena tidak adanya perawatan saluran drainase yang memadai. “Kami selalu menghadapi masalah yang sama setiap kali musim hujan datang. Parit-parit penuh sampah dan tidak ada yang peduli. Ini yang jadi penyebab utama banjir yang selalu mengganggu aktivitas kami,” keluhnya.
Keluhan warga tersebut didukung oleh data dari BPBD Aceh Utara yang menyebutkan bahwa kondisi drainase yang buruk merupakan salah satu faktor utama yang memperburuk banjir. Menurut Kepala BPBD Aceh Utara, Saiful Anwar, meskipun hujan deras menjadi faktor utama, namun parit yang tersumbat memperburuk genangan air. “Penyumbatan saluran drainase di beberapa titik memang mempengaruhi kecepatan aliran air. Sebagian besar saluran tidak mampu menampung debit air yang masuk, sehingga terjadi genangan yang meluas,” kata Saiful.
Upaya Penanganan dan Evakuasi Korban Banjir
Setelah banjir merendam beberapa kawasan, BPBD bersama dengan Dinas Pekerjaan Umum, TNI, Polri, dan relawan setempat segera melakukan penanggulangan darurat. Petugas mengevakuasi warga yang terdampak banjir ke tempat aman, menyediakan makanan dan obat-obatan untuk korban yang membutuhkan, serta mendirikan posko-posko bantuan di lokasi-lokasi terdampak.
Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib, yang turun langsung ke lokasi, mengungkapkan bahwa tim tanggap darurat sudah berada di lapangan untuk membantu warga yang terjebak banjir. “Kami telah menyiapkan bantuan logistik dan juga tempat pengungsian untuk warga yang terdampak. Kami juga mengerahkan alat berat untuk membersihkan parit-parit yang tersumbat agar aliran air dapat kembali lancar,” ujarnya.
Selain itu, beberapa ruas jalan yang terendam banjir juga langsung dibersihkan menggunakan alat berat, untuk memungkinkan kendaraan dapat melintas kembali dengan aman. TNI dan Polri turut berjaga di beberapa titik jalan untuk memastikan lalu lintas tetap teratur.
Pentingnya Pemeliharaan Infrastruktur Drainase
Banjir yang terjadi di Aceh Utara dan Lhokseumawe ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah tentang pentingnya pemeliharaan infrastruktur drainase secara berkala. Pemerintah Aceh Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum berjanji untuk segera mengatasi masalah parit tersumbat yang selama ini dikeluhkan warga. Menurut Ir. Zulkarnain, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aceh Utara, mereka telah merencanakan pembersihan saluran drainase di beberapa titik yang rentan banjir. “Kedepannya, kami akan memperbaiki dan memperkuat sistem drainase agar tidak ada lagi genangan air yang mengganggu kehidupan masyarakat, terutama saat musim hujan,” kata Zulkarnain.
Selain itu, pihak pemerintah juga menyarankan kepada warga untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan parit dan saluran air. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran drainase. Sampah yang menumpuk akan menghambat aliran air dan memperburuk potensi banjir,” tambahnya.
Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan Bencana
Pemerintah daerah juga telah memperkuat sistem peringatan dini kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana. Dengan adanya sistem informasi cuaca dan pemantauan hujan secara berkala, diharapkan masyarakat bisa mendapatkan informasi yang lebih cepat dan tepat mengenai potensi bencana banjir.
Saiful Anwar, Kepala BPBD Aceh Utara, mengimbau agar warga di kawasan rawan banjir untuk selalu siap siaga. “Kami akan terus meningkatkan koordinasi dengan BMKG untuk mendapatkan data cuaca yang akurat. Selain itu, kami juga akan mengedukasi masyarakat agar mereka dapat lebih cepat merespon jika ada potensi bencana,” ujarnya.
Tantangan Kedepan: Meningkatkan Infrastruktur dan Kesadaran Masyarakat
Meski bantuan darurat telah diterima, peristiwa banjir ini mengungkapkan banyaknya tantangan yang dihadapi dalam hal penanggulangan bencana dan pemeliharaan infrastruktur. Peningkatan kesadaran masyarakat dan peran aktif dalam menjaga lingkungan akan sangat penting untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.
