, ,

Ketua Komisi VIII Sebut Ada Pesawat Haji Krunya Pakai Rok Tinggi-tinggi

oleh -285 Dilihat

lhoseumawe – Ketua Komisi VIII Sebut Pernyataan mengejutkan datang dari Ketua Komisi VIII DPR RI, Ashabul Kahfi, yang menyoroti penampilan awak kabin dalam penerbangan jamaah haji Indonesia. Dalam rapat evaluasi penyelenggaraan haji 2025, ia menyebut ada kru pesawat yang mengenakan rok terlalu tinggi, yang dinilai tidak pantas dalam konteks pelayanan ibadah suci.

“Ada kru pesawat yang rok-nya tinggi sekali. Ini kan penerbangan haji, bukan penerbangan biasa,” ujar Ashabul Kahfi dalam rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (28/10). Pernyataan itu langsung menyita perhatian publik dan memunculkan perdebatan hangat di media sosial.

 Sorotan Etika dan Kelayakan Seragam

Menurut Ashabul, penerbangan haji memiliki nilai religius dan moral yang harus dijaga. Ia menilai, seluruh aspek pelayanan — termasuk seragam awak kabin — seharusnya disesuaikan dengan nuansa ibadah dan kesakralan perjalanan spiritual jamaah.

“Kita ini mengantarkan tamu Allah. Jadi semuanya, dari makanan, pelayanan, hingga penampilan petugas, harus mencerminkan suasana ibadah,” tegasnya.

Ketua Komisi VIII Sebut
Ketua Komisi VIII Sebut

Baca Juga : Pembunuh Pria yang Jasadnya Terbungkus Karung di Muba Ternyata Ayah dan Anak

Politikus PAN itu menambahkan, Komisi VIII akan meminta klarifikasi dari pihak maskapai dan Kementerian Agama agar ke depan tidak terjadi hal serupa. Ia menilai, standar penampilan kru harus diatur dengan mempertimbangkan nilai budaya dan kesopanan jamaah Indonesia yang mayoritas berusia lanjut.

Respons Publik: Antara Etika dan Profesionalisme

Pernyataan tersebut langsung menimbulkan reaksi beragam. Sebagian masyarakat mendukung, menilai pentingnya menjaga adab dan kesopanan dalam penerbangan haji. Namun sebagian lainnya menilai fokus seharusnya pada kualitas pelayanan dan keselamatan, bukan semata pada busana kru.

Di media sosial, tagar #RokTinggiPesawatHaji sempat menjadi trending, memicu diskusi antara dua kubu.

“Kalau konteksnya ibadah, memang sebaiknya semua pihak menghormati. Tapi jangan lupakan juga profesionalitas awak kabin,” tulis seorang pengguna X (Twitter).

Sementara yang lain menilai komentar Ashabul terlalu menyorot hal remeh.

“Yang penting pelayanan bagus, jamaah nyaman. Soal rok tinggi atau rendah, bukan itu esensinya,” ujar netizen lain.

Maskapai: Seragam Sudah Sesuai Standar

Menanggapi hal itu, salah satu maskapai penyedia penerbangan haji menegaskan bahwa seragam awak kabin telah mengikuti aturan perusahaan dan standar keselamatan penerbangan internasional.

“Kami memiliki pedoman ketat terkait seragam, termasuk panjang rok dan kelayakan penampilan. Jika ada yang dianggap tidak sesuai, tentu akan kami evaluasi,” kata Corporate Communication Manager maskapai tersebut.

Ia menambahkan, seluruh kru haji telah mendapatkan pembekalan khusus terkait etika pelayanan jamaah, termasuk tata cara berinteraksi dengan penumpang lansia dan menjaga suasana religius di kabin.

Kemenag Siap Evaluasi

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) mengaku akan menindaklanjuti pernyataan Ketua Komisi VIII tersebut dengan melakukan koordinasi bersama pihak maskapai.

“Kami terbuka terhadap masukan. Tujuan utamanya adalah menjaga kekhusyukan dan kenyamanan jamaah,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief.

Hilman menegaskan, aspek etika pelayanan dan citra spiritual memang menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan haji. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga proporsionalitas dalam menilai setiap persoalan.

“Semua kritik kami terima. Tapi mari tetap fokus pada peningkatan layanan haji secara menyeluruh,” ujarnya diplomatis.

Pengamat: Simbol Kecil, Isu Besar

Menurut pengamat sosial keagamaan, Dr. Umar Hidayat, pernyataan Ashabul Kahfi mencerminkan sensitivitas masyarakat terhadap simbol-simbol moral dalam ruang publik keagamaan. Meski terlihat sepele, isu seragam bisa menjadi cerminan komunikasi antara nilai modernitas dan kesalehan publik.

“Pakaian dalam konteks ibadah adalah simbol. Ketika simbol itu dianggap tidak sesuai, publik bereaksi. Tapi tentu harus dibarengi dengan pemahaman rasional agar tidak jadi polemik dangkal,” jelasnya.

Ia menambahkan, isu ini semestinya dijadikan bahan refleksi bagi semua pihak bahwa penyelenggaraan haji bukan hanya soal logistik, tapi juga soal pengalaman spiritual dan nilai-nilai kultural jamaah Indonesia

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.